Kamis, Februari 18, 2010

Mr. Bule wants a wife

Mr. Bule Wants A Wife
Reef - Australia

Sweet Z/AsMods/Detikers dan para pembaca KoKi di manapun anda berada, salam damai dari Oz,

Note : artikel ini ditulis tidak dengan tujuan mendiskreditkan pihak-pihak tertentu, namun hanya sebatas laporan ringkasan dari pengalaman bergaul dengan para bule, membaca buku, pengalaman pribadi dan juga rangkuman dari web site expat Indonesia matters. Isi di luar tanggung Jawab penulis. Jika ada kata-kata yang kurang pantas, penulis mohon maaf sebesar-besarnya.

Berbicara mengenai bule masih  mengasyikkan bagi kebanyakan masyarakat Indonesia pada umumnya, apalagi yang menyangkut kisah asmara antara wanita Indonesia degan bule.  Banyak suara sinis nyaring terdengar dari yang sindiran secara halus maupun yang kasar.  Asmara antar Mister Londo dan gadis Indonesia selalu menjadi kisah yang tidak akan pernah membosan- kan,  menarik dan membuat banyak orang penasaran, ditunjang trend yang terjadi satu dekade belakangan dengan maraknya artis yang menikah dengan Mister Londo ini. Apa sebenarnya yang dicari dari para lelaki bule ini, apa sih kehebatannya kok banyak wanita Indonesia yang seolah-olah mendewakan para bule ini?  Ada beberapa artikel yang pernah aku tulis membahas tentang hal ini seperti di :

http://kolomkita.detik.com/baca/artikel/24/566/in_the_land_of_bule_i_am_beautiful_

dan beberapa di koki jadul termasuk pengalaman sendiri tentu saja.

Dear KoKiers,


Artikel berikut, sebagian  merupakan ringkasan kisah nyata yang dialami oleh para Mister bule yang sharing pengalaman pahit getirnya berhubungan dengan wanita Indonesia.  Pengalaman yang aku tulis berikut  merupakan summary kisah-kisah kegagalan maupun kesuksesan para Mister dalam usahanya mencari istri yang aku sarikan dari web site expat  setelah meminta izin sang moderator web site tersebut tentunya...(thanks to Patung. from IM)
http://www.indonesiamatters.com/359/dating-indonesian-girls/

dan juga dari buku berjudul Asian Mystique karya Sheridan Prasso.

Contoh kasus :

Sudah sekitar tiga bulan, Bob ( bukan nama sebenarnya) tergila-gila dengan seorang gadis Jawa yang tinggal dan kerja di Bali, yang ditemuinya di salah satu bar di Kuta, saat Bob liburan selama dua minggu di Bali bulan Agustus tahun lalu.  Saking kasengsemnya si Bob, bule asal Oz ini dalam waktu tiga bulan sudah dua kali pergi ke Indonesia untuk apel. Di dalam  salah satu postingannya, si Bob menyatakan siap pindah agama jika kelak berhasil menikahi sang gadis. Yang manjadi persoalan adalah : hatinya masih gamang dan ragu, jujur dia mengakui bahwa dia kurang bisa mempercayai gadis impiannya,  namun karena hati sedang dilanda asmara, keraguan dari hati kecilnya berusaha ditepisnya mati-matian.
Apa pasal.? Gadis manis yang telah membuatnya terkintil-kintil tersebut, sebut saja Tina,  adalah seorang Pekerja Seks Komersial, dan mereka bertemu juga awalnya sebagai  the seller dan the buyer. Diakui oleh Bob, sebenarnya dia tidak keberatan jika gadis pujaannya itu seorang pekerja seks, fair enough........ namun dia sangat memohon setelah Tina jadi pacarnya  untuk menghentikan pekerjaan lamanya.  Hatinya tidak rela membayangkan Tina betarung keringat dengan lelaki lain. Dan untuk membuktikan keseriusannya, Bob rela membiayai kehidupan selanjutnya sampai dia mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, Tinapun menyanggupinya. "Easy darling..."  Begitu janjinya pada Bob.
Yang masih ngganjal di benak Bob, adalah, apakah Tina benar-benar sudah meninggalkan profesinya sebagai Perempuan Pekerja Seks dan mencari pekerjaan baik-baik dan halal??? Bob sendiri tentu tidak tahu karena dia tinggal di Australia. Kegundahan inilah yang membawa Bob minta saran. Saran yang sebagian besar berasal dari para Mister bule baik yang sudah berhasil menggaet gadis Indonesia dan hidup berbahagia maupun para Mister bule yang  berhasil menggaet gadis Indonesia namun gagal dalam hubungannya. Banyak pro dan kontra.  Ada yang sengit ada pula yang optimis.

Dear KoKiers,

Nampaknya masih banyak kaum westerner (baca : bule) yang masih mempunyai fantasi tentang sosok wanita Timur yang lemah gemulai, sexy, eksotik sekaligus submissive, dengan kata lain sangat patuh kepada suami dan siap melayani suami dengan penuh cinta tanpa banyak cing-cong atau dalam bahasa jawa : lebih ngemong. Fantasi yang masih kuat di benak lelaki dimanapun, khususnya kaum bule yang merasa gerakan feminist yang gencar telah memusnahkan citra wanita feminim di dunia Barat.  Mereka sangat merindukan sosok perempuan feminim yang telah hilang, dan keberadaan sosok wanita Asia   termasuk Indonesia tentu saja,  masih kuat memegang tradisi dan belum begitu liar tersentuh dengan gerakan feminisme mampu mengisi point yang hilang tersebut di benak mereka.
Berangkat dari  asumsi bahwa fantasi tersebut bisa menjadi kenyataan, maka semenjak puluhan tahun lalu, berbondong-bondong para lelaki bule baik dari Amerika, Eropa dan Australia pergi untuk "hunting" sang calon istri di berbagai negara Asia.   Dan walau tidak se-semarak di Thailand atau Philipna, di Indonesia sendiri trend bule mencari istri dari Indonesia makin signifikan.
Menurut pengakuan para Mister Londo baik yang kutemui di web IM maupun dari kontak langsung dengan rekan-rekan suami di Oz, Salah satu kesimpulannya adalah : siapapun laki-laki tersebut, tidak masalah apakah :  gemuk, botak dan tua, sepanjang dia seorang bule, dia akan bebas untuk menjadi siapapun termasuk misalnya sebagai seorang James Bond jika berada di Asia.  Mereka lebih merasa 'dibutuhkan'  sekaligus 'dipuja' sehingga mau tak mau akan menaikkan 'ego' para lelaki. No matter what, setiap lelaki merasa 'lebih ganteng' jika berada di Asia walau mungkin untuk ukuran di negaranya termasuk 'tipe standart'.

Yang menarik,  salah satu pengakuan seorang bule yang berasal dari negara Eropa, yang lumayan lama tinggal di Jakarta, kesimpulan seperti ini ditolak mentah-mentah karena kenyataannya, menurut dia gadis-gadis  Jakarta tidak tertarik dengan Bule dengan wajah jelek dan botak misalnya. Sebut saja Tom yang mengaku berwajah pas-pas an sudah lama mencari wanita Indonesia yang benar-benar mencintainya apa adanya, dan sampai saat ini hasilnya masih nol besar,   sementara dia mengaku enggan dengan membeli jasa untuk mendapatkan cinta sesaat. Stereotype bahwa setiap Bule bisa menjadi  James Bond adalah omong kosong....baginya, gadis-gadis Jakarta khususnya, hanya tertarik dengan bule yang berwajah seperti Brad Pitt atau Tom Cruise dan bukan seperti Dany De Vito. Tom seriously desperates want a wife.
Tak dapat dipungkiri juga, citra tentang wanita Timur yang  digambarkan di film-film Hollywood memang lebih sering menampilkan 'a typical ' seorang wanita Timur. Seperti dalam film The Dragon lady, Dominatrix, The Geisha Girl misalnya memperkuat fantasi para bule tentang wanita timur yang super eksotik sekaligus submissive dan ini juga sekaligus menjawab pertanyaan mengapa stereotype ini tetap ada, ?
Banyak para Mister bule ini yang mengaku kecele setelah benar-benar berkencan dan jatuh cinta dengan wanita Indonesia yang dianggap lemah gemulai, setia dan ngemong, apa yang ditemuinya tidak lebih dari seorang gold digger yang haus akan materi. Dan menganggap bule hanya tidak klebih sebagai  ATM berjalan.
Ada cerita dari salah seorang bule yang harus menggagalkan niatnya untuk menikahi pacarnya yang berasal dari Jakarta, karena belum-belum gadis yang dicintainya tersebut minta dibelikan sebuah apartmen dan Honda Jazz. Ada juga pengakuan bule yang mempunyai pacar dan disewakan apartmen mewah di kawasan Jakarta, namun ternyata  saat dia berada di negara asalnya, sang pacar juga ternyata mempunyai pacar seorang bule juga yang rela menggelontorkan jutaan rupiah per bulan selain dirinya. Dan masih banyak lagi deretan pengalaman-pengalaman getir laiinnya.
Bahkan yang menarik ada juga pengakuan dari seorang wanita Indonesia yang tinggal di negeri seberang yang terang-terangan mengaku memanfaatkan para bule untuk dikeruk dollarnya. Latar belakang kemiskinan keluarganya membuatnya balas dendam dengan memanfaatkan para bule. Walau tentu ada pengalaman manis juga. Pengalaman yang jujur yang cukup menohok citra kita sebagai wanita Indonesia.

Sebagian para lelaki bule mengaku bahwa mereka tertarik dengan kecantikan wanita Asia yang sinonim dengan rambut hitam, tubuh sexy , brown skin, dan tatapan mata yang seductive. "They really know how to please men."  begitu pengakuan rata-rata para bule ini.  Dari pihak perempuan sendiri, tentu bermacam- macam motivisai yang menjustify tindakan mereka. Walau the bottom line is almost similar : the get a better life.  Rata-rata mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu dan jenjang antara yang miskin dan kaya sangat jauh, sementara tuntutan hidup tidak mengenal siapa kaya dan siapa miskin. Walau tidak dapat dipungkiri juga diantara para bule tersebut banyak pula yang menemukan pasangan sejatinya lepas dari stereotype tentang wanita Timur, para wanita tersebut adalah wanita berpendidikan tinggi , cerdas sekaligus 'tough' ,  dan berasal dari middle class citizen, dan pernikahannya dengan para lelaki bule, berdasarkan rasa cinta kedua belah pihak.

Di kalangan para bule sendiri,   ada anekdot lucu yaitu : hal yang membahagiakan kaum lelaki adalah  jika dia mempunyai : "American salary, Chinese Cook, English house, dan Japanese wife."  (Japanese bisa diganti dengan Indonesian) . Meaning :  bergaji Amerika berarti banyak duit, dan siapa pula yang meragukan kepiawaian para Chinese Chef? dan  mempuyai rumah gaya English yang terkenal anggun dan nyaman adalah impian, dan tentu tak ketinggalan seorang istri yang taat kepada suami yang setia setiap saat, dari masalah makanan sampai urusan tempat tidur tanpa mengeluh seperti para perempuan Jepang?
Sebaliknya anekdot tersebut berlanjut begini : Hal terburuk bagi seorang lelaki adalah : jika dia mempunyai :" Chinese salary, English Cook, Japanese house dan American wife". Meaning : Chinese salary terkenal paling minim, English Cook identik dengan  tidak tahu the way how to cook properly, Japanese house yang terkenal complicated dan sangat mungil untuk ukuran bule, dan American Wife yang terkenal sangat bitchy dan super dominan. Sebaliknya dari kalangan perempuan, distereotype -kan  yang lebih suka dengan para bule karena mungkin dengan alasan : Size does really matter. (baca : fisik dan dollar).

Kira-kira sekitar 170 ribu lelaki bule dari berbagai negara menemukan pasangannya dari Asia setiap tahunnya. Urutan favorite pertama adalah : Thailand. Philipina, Vietnam, dan negara Asia lainnya.  Indonesia menempati urutan akhir dengan alasan : perbedaan budaya dan agama. Walau demikian, pernikahan yang terjadi antar lelaki bule dengan perempuan Indonesia makin marak dengan menjamurnya agency-agency yang menawarkan bride yang eksotik dan seductive. Salah satunya adalah Cherry Blossom yang pada tahun 1974 meng-claim bahwa agency mereka merupakan "World first picture personals" service dan juga agency tersebut meng-claim telah mempertemukan pasangan suami istri sejumlah 50 ribu pasangan dan di tahun 2004 sendiri sekitar 2000 pasangan. Walau sampai saat ini tak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa pasangan yang menikah dengan wanita Indoenesia jauh lebih bahagia ataupun beresiko kecil terkena domestic violence.
Pernyataan mengenai : "Asians try to avoid confrontation. Men find that very comforting. They like to be agreed with."  Mungkin ada benarnya.  Hal ini disebabkan karena faktor bahasa. dan tentu pola pikir yang berbeda. Konflik semacam ini biasanya mulai nampak setelah masa 'gandrung' usai.

Lepas dari berbagai masalah yang timbul, fakta di lapangan, pamor wanita Indonesia ternyata cukup menjanjikan, banyak para Mister ini sengaja datang ke Indonesia untuk terang-terangan mencari istri "Indonesian women are the best women in the World...so many beautiful women in Indonesia and their body whoa ...........to die for, I am willing to kill to have one.."  Pengakuan salah seorang Mister yang baru pertama kali ke Indonesia.
Dan bagi yang pertama kali datang, dengan tujuan mencari istri, first mistake : mereka mencari calon istri di bar-bar dan night club. Menurut pengakuan para bule yang telah berhasil menjalin hubungan dengan perempuan Indonesia dan merasa sangat kecewa, mengatakan bahwa mencari calon istri  di tempat-tempat hiburan malam seperti night club, diskotik dan sebangsanya. merupakan kesalahan umum para bule pencari istri. Menurut pengakuan para bule  the new arrivals tersebut,  pergi ke night club hanya sekedar mencari hiburan ringan tempat kangkow sambil minum-minum dan relax seperti suasana di negrinya,  dan they take for granted begitu saja dan akhirnya memang sering dibuat terkejut dengan suasana night club atau bar yang ada di kota-kota besar di Indonesia karena begitu seringnya ditemui para 'ayam' yang memang datang ke tempat-tempat seperti itu hanya untuk mencari lelaki (baca : dapat bule adalah bonus).



Di negara-negara Barat seperti Ausrtalia, night club atau bar merupakan tempat nongkrong relax minum beer dan bertemu teman-teman, namun tidak demikian halnya di Indonesia, suka tidak suka, tempat-tempat hiburan malam masih mempunyai konotasi negatif,alias sering digenrealisasi bahwa  night club adalah tempat para berkumpulnya wanita nakal. Selajutnya di lapangan , pengakuan banyak bule yang menemukan pasangan di bar ternyata tidak berlangsung langgeng, ketidak setiaan dan materialistis, biasanya menjadi alasan utama retaknya hubungan.  Wanita Indonesia kerap kali memanfaatkan bule sebagai ATM  berjalan sementara pada kenyataannya banyak dari mereka yang ber modal pas-pasan. Harapan para bule menemukan istri di bar akan menemukan istri yang setia dan mencintai seperti apa adanya, sering kecele. wanita yang suka nongkrong di Bar sering mempunyai gandengan lebih dari satu bule, dan mereka para wanita cantik ini benar-benar memanfaatkan ke-naive -an para bule.

Seperti pepatah Inggris yang sangat popular di lingkungan bule : "You can take a girl out from a bar but you can't take a bar from a girl". Meaning  jika  mencari calon istri pada wanita yang suka nongkrong di bar, maka siap-siap saja patah hati karena seorang wanita yang terbiasa duduk bar tidak akan betah di rumah. Dia kan kembai ke bar (baca : kehidupan hura-hura) suatu hari. Pesan yang ingin disampaikan tentu saja jika ingin mencari istri seperti yang diidamkan yaitu setia dan tidak matre misalnya, ya carilah di tempat-tempat yang sesuai.
Di Indonesia masih berlaku hukum : wanita baik-baik tidak akan setiap hari nongkrong di bar. Akan jauh lebih bijaksana jika mencari istri carilah di tempat-tempat yang 'wajar' sesuai norma yang berlaku di Indonesia. Banyak jalan menuju Roma, dari lingkungan kerja, perpustakaan,  organisasi, maupun club-club sosial,  dan bahkn biro jodoh atau comblang.  Why not..??   Walau dalam kenyataannya, di kultur urban dewasa  ini, banyak juga perempuan baik-baik yang datang ke bar atau diskotik. Namun demikian suka tidak suka, stereotype seperti di atas masih sangat kental di masyarakat kita. Tentang hal ini, aku pernah membaca buku karangan Meg Davis yang menceritakan anaknya yang menikah dengan gadis muda Philipina, yang ditemuinya di sebuah bar di kawasan pangkalan Militer di sebuah pulau di Philipina,  saat sang anak yang tentara itu ditugaskan di sana, akhirnya harus mengalami hal yang sangat tragis, tidak saja sang istri  yang sangat dicintainya mempunyai PIL, mentelantarkan anaknya dengan lebih sering nongkrong di bar daripada menjaga ankanya, selain itu, sang istri tersebut juga mengeruk uang suaminya, dan yang paling tragis,  juga membunuh suaminya sendiri walau lewat tangan pacar gelapnya.

Tidak dapat dipungkiri contoh di atas adalah yang paling ekstrim, dari diskusi panas yang antar para bule di web site IM, contoh diatas merupakan suatu pelajaran yang berharga, namun sayangnya, seperti Bob pada kasus di awal tulisan ini, karena sedang gandrung-gandrungnya dengan sang gadis, tahi kucingpun terasa seperti coklat.

Dear KoKiers,

Bahwa, setereotype tentang wanita Timur mungkin berlaku hanya sebagian kecil kelompok wanita. Wanita Asia, banyak juga dari mereka yang gigih, tough, smart sekaligus seorang pemimpin. Akhir kata, ..stereotype is just stereotype, ada benarnya, ada juga yang cuma khayalan.

Monggo kerso...


Salam manis,

Reef Australia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Thanks for the comment!